Beranda Nasional

​Antara “Cari Duit” Sama “Jaga Anak”, Kamu Pilih Yang Mana? 1 Kata dari Li Ka Shing Membangunkan Jutaan Orang Tua!

BAGIKAN
Iustras cerita : Jokowi bersujud di hadapan ibunda beliau.

Kroniknews.com – Pilih bawa anak atau pilih kerja? Banyak ibu, mama muda, atau calon mama pusing dengan pilihan ini. 3 tahun pertama memang sebaiknya dibawa sendiri karena masih terlalu kecil, namun dengan begitu pekerjaan pasti terkorbankan. Kalau kasih ke orang lain urus, takutnya anak jadi gak deket sama kita. Kalau dihadapkan dengan kondisi seperti ini, apa pilihanmu?

“Seberapa besar keberhasilan orang tua tidak bisa dibandingkan dengan keberhasilannya dalam mendidik anak!”

Mungkin kita merasa perlu bekerja keras demi memberi anak kita kehidupan yang lebih baik, tapi mungkin yang benar-benar dibutuhkan anak adalah ‘Anda ada untuknya’. Apalagi mendidik anak tidak ada kata ‘nanti’, nanti sudah besar sulit untuk berubah, karena itu apa-apa harus ditanamkan sejak kecil.

Semua anak terlahir sama. Namun, mengapa ada sebagian anak tumbuh besar menjadi baik, sebagian lagi menjadi rusak?

“Pendidikan orang tua” adalah kuncinya! Tidak peduli berapa banyak uang yang didapat, seberapa majunya usaha, kalau pendidikan anak tidak tepat, pasti akan datang penyesalan di masa depan. Meski kita tidak usah menghabiskan seluruh waktu kita untuk mendidik anak, namun kita tidak boleh menelantarkan pendidikan anak hanya karena sibuk cari duit! (Disinilah mengapa orang tua yang kaya sukses, rata-rata anaknya rusak)

Pada masa anak-anak, mereka sangat mudah untuk ‘dibentuk’. Mereka seperti sumber air, aktif dan tak terkendali, namun sekali diarahkan, Anda bisa mengubah arusnya. Di luar sana, mengapa ada orang berguna, mengapa ada orang membuat perubahan, disitulah peran pendidikan. Anak lahir ke dunia ini tidak bisa memilih orang tua mereka. Orang tualah yang melahirkan mereka ke dunia. Karena itu, selagi masih kecil, berikan pendidikan yang baik, cukup Anda sebagai orang tuanya menemani, itu adalah tanggung jawab yang paling penting.

Ada orang bilang:

Anak itu seperti sebidang tanah,
Ditabur benih pemikiran akan memanen tindakan,
Ditabur benih tindakan akan memanen kebiasaan,
Ditabur benih kebiasaan akan memanen karakter,
Ditabur benih karakter akan memanen nasib!

Di Inggris ada satu keluarga yang semuanya keturunan profesor. Mulai dari kakek moyang adalah seorang filusuf terpelajar yang rajin dan tekun. Cucunya ada 13 yang jadi kepala universitas, 100 yang jadi profesor, 80 jadi penulis, 60 lebih jadi dokter, 1 jadi duta besar, dan 20 lagi anggota parlemen.

Masih juga di Inggris, ada satu keluarga yang beda tapi sama. Mulai dari kakek moyangnya yang seorang penjudi dan pemabuk terkenal, akhirnya sebanyak 8 generasi keturunan keluarga tersebut, 300nya menjadi pengemis dan gelandangan, lebih dari 400 kecanduan alkohol kemudian cacat atau meninggal, 60 lebih jadi penipu dan pencuri, 7nya jadi pembunuh, satu keluarga tidak ada yang beres.

Anak kelak jadi orang seperti apa, semua tergantung pada pendidikan orang tua pada tahap awal pertumbuhan. Anak adalah bayang-bayang orang tua, replika orang tua. Untuk membentuk karakter baik pada anak, orang tua harus menjadi contoh dan panutan yang baik. Baik buruknya perilaku anak adalah hasil ajaran orang tua.

Nasib anak berada di tangan orang tua. Kalau orang tua bisa menuntut diri sendiri untuk menjadi contoh yang baik bagi anak, berusaha membangun karakternya, secara aktif mengembangkan prospek masa depannya, itulah keberhasilan terbesar orang tua. Keberhasilan karir tidak sepadan dengan keberhasilan dalam mendidik anak-anak menjadi orang hebat.

Selagi masih muda, jangan menganggap enteng pendidikan anak dengan alasan sibuk, karena di masa tua nanti, seberapa kaya atau berkuasa Anda, membesarkan anak yang gagal akan membuat Anda menyesal, tapi membesarkan anak yang sukses dan berbakti akan membuat Anda benar-benar bahagia!.